Jumat, 10 Oktober 2014

Published 10/10/2014 07:10:00 PM by with 0 comment

Cerpen - Untung ada Bob

Untung ada Bob.


                Masa Mos (Merana oleh siksaan) udah di mulai. Saatnya bully-bullyan terjadi pada perdik (peserta didik bukan udik). Termasuk juga dengan albert manusia setengah ganteng setengah asem.
                Albert melanjutkan sma-nya di Sma purwa, sma yang paling terkenal dengan produk-produk perempuannya yang cantik-cantik (kayak perusahaan cewek aja), maksudnya anak ceweknya pada cantik-cantik.
                Pagi ini albert udah siap-siap, bukan untuk pergi ke sekolah baru tapi untuk ke jamban, katanya jamban adalah tempat curhat terbaik di pagi hari. Bahkan dia pernah membuat lagu tentang jamban. Begini liriknya,
                Jamban I love you 3x
                Jamban saranghaeyo 3x
                Ououo…. 12x (Yang ini mirip kayak monyet).
Dan alhasil lagu buatannya terkenal sampai ke pelosok spiteng rumahnya.
                Sesudah curhat di jamban, ia mandi dan siap-siap pergi ke sekolah barunya. Namun sebelum pergi ia sempat ngaca sebentar, melihat betapa hebatnya ciptaan Tuhan yang membuat manusia seperti dirinya.
                Albert kini berjalan keluar dari komplek perumahan militer dengan bawaan yang seobrok. Ia juga sempat mendapat ejekan dari beberapa anak kecil. Tapi ia tetap tersenyum, katanya senyum itu ibadah.
                Baru lima meter dari gerbang sekolah albert sudah dihadang oleh seorang gadis cantik dengan wajah yang di kecut-kecutkan.
                “Jam berapa ini?” Tanya gadis itu.
                “Gak tau kakak cantik.” Jawab albert polos. “Yang aku tau cintaku padamu tidak mengenal jam.”
                “Ihh, tampang pantat panci kayak kamu aja udah berani gombalin saya HAH?” Bentak gadis itu yang ternyata adalah osis.
                “Aku gak nge gombal kok, nama kamu vita kan? Masa kamu gak kenal aku? Itu loh yang waktu dulu itu…”.
                “T-tau dari mana nama aku vita HAH?” jawab gadis cantik itu.
                “Tuh name tag-nya.” Balas albert lalu meninggalkan gadis itu yang menahan kesal.
                Albert menuju papan pengumuman. Ia mencari tahu kelasnya, tapi sayang namanya tidak ada. Bahkan kini sudah kali ke-tiga ia mencari namanya di deretan nama siswa itu, tapi hasilnya nihil.
                Karena kesal ia pun duduk di bawah pohon. Ia tidak memperdulikan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh.
                “Hallo…” Suara lembut menyapa telinganya. “Kamu albert?”. Ternyata orang yang memanggilnya adalah seorang gadis cantik.
                “Oh iya aku albert. Kamu tau dari mana kalau aku albert? Dari tv ya?” Candanya.
                “Oh iya dari tv, kalau gak salah kamu termasuk keajaiban dunia kan? ‘Manusia mirip kambing’ itu julukanmu kan?” Balas gadis itu.
                Albert menggarut kepalanya. Dalam hatinya kesal, ia mengutuk gadis itu.
                “Tuh kan, sekarang malah jadi mirip monyet dengan bulu kambing yang di cat hitam.”
                Albert yang kesal pergi meninggalkan gadis itu.
                “Hei, tunggu dulu dong! Gitu aja udah ngambek.” Rayu gadis itu.
                Albert menghentikan langkahnya, ia berpikir mungkin gadis itu hanya bercanda. “Mau ngomong apaan?” Tebaknya.
                “Tadi aku di suruh untuk bawa kamu ke kelas.”
                “Trus?”
                “Ya, trus aku harus bawa kamu…”
                “Bukan maksud aku kelasnya dimana?”
                “Oh, tuh di sana.” Ia menunjuk kelas yang terlihat menyendiri, kelas itu terpisah dari kelas lainnya.
                Mereka berdua pun berjalan ke kelas itu. albert masih agak kesal dengan  gadis itu sementara gadis itu sudah lupa kejadian tadi.
                “Permisi…”
               “Oh, ayo masuk.” Ajak seorang laki-laki yang ternyata dia adalah osis Pembina kelas ini.
                Mereka berdua masuk. “Eh tunggu dulu. Itu kamu, yang rambutnya kayak bulu kambing. Kesini dulu!”
                Albert yang tidak merasa bahwa ia adalah orang yang dimaksud tetap masuk dan mencari tempat duduk.
                Tapi beberapa saat kemudian tangannya ditarik ke depan oleh gadis yang tadi. “Kamu itu ya, udah tau di panggil sama kakak kelas tapi gak nyahut! Dasar gak tau diri.”
                “Kemu betul. Manusia seperti ini harus diapakan?” Tanya Pembina itu.
                “Di hukum!” Sahut semua orang di kelas.
                “Permisi. Apakah ini betul kelas sepuluh-satu?” Tiba-tiba manusia dengan kulit seperti orang negro muncul dari pintu kelas.
                “Iya benar. Kamu sisiwa kelas ini juga? Baiklah kamu kesini dulu.”Jawab Pembina itu. “Baiklah karena sudah ada dua orang disini, sekarang kalian pilih mana yang lebih baik di hukum?”
             “Gak ada pilihan yang lebih bagus…?” Tanya orang sekelas.
                Dalam hati albert terus berdoa agar orang yang baru datang itu tambah jelek, tapi mau diapakan lagi muka orang itu udah mentok jeleknya.
                “Si bob aja…” Sahut orang sekelas.
                Akhirnya albert selamat dari hukuman. Dan orang yang dihukum itu ternyata namanya Bob, lengkapnya Bob sulaiman.
                Untung ada bob.
Read More
      edit

Rabu, 08 Oktober 2014

Published 10/08/2014 04:22:00 PM by with 5 comments

FF - Lelaki Tua di Tengah Gerimis


Lelaki Tua di Tengah Gerimis

                …
                Waktu itu. Kita bersepeda mengelilingi desa di saat sedang gerimis. Kamu berkata padaku “… Hanya kamu yang aku cinta”, lalu aku menjawab “Aku tidak percaya”.
                “Kenapa?” Tanyamu heran, lalu tanganmu mempererat pelukanmu dari belakangku…
                “Hmmm…” Aku menghentikan sepeda kita tepat di depan kedai kecil yang menjual guci. “Turunlah…”Kataku.
                Kamu pun turun. Tidak lama berselang seorang kakek tua di tengah gerimis melaju dengan sepeda karatannya dan berhenti tepat di depan kami.
                KRING! KRING! Bunyi bel sepeda ontelnya.
                “Kau mau tahu kenapa aku tidak percaya pada kata-katamu?” Tanyaku padamu.
                “I-iya…” Ucapmu.
                “Tiga hari yang lalu,” Aku menunjuk pada kakek tua itu “bukankah kakek tua itu memboncengmu naik sepeda?” Tanyaku.
                “Hei kenapa kau sebut aku kakek tua?” Tanya orang yang ku tunjuk itu. “bukankah kalian juga seumuran denganku?”.
                Aku terdiam. “Iya benar aku di bonceng oleh dia!” Kata kamu tegas, “dan aku cinta dia!”.
                “Bukannya kau bilang tadi kalau kau cinta denganku?” Aku menendang sepedaku, tapi tidak terjatuh.
                “Sepertinya kau sudah pikun!”
***
                Aku Lelaki tua yang sedang menebas gerimis, saat itu aku melihatmu sedang duduk seperti sedang menunggu. “Ayo naik!” aku mengajakmu untuk naik sepeda.
                Waktu itu. Kita bersepeda mengelilingi desa di saat sedang gerimis. Kamu berkata padaku “Waktu dulu aku pernah bilang, ‘Hanya kamu yang aku cinta’ Tapi sekarang ada orang lain yang aku cinta.”, lalu aku menjawab “Aku tidak percaya”.
                “Kenapa?” Tanyamu heran, lalu tanganmu mempererat pelukanmu dari belakangku 'karena kita hampir terjatuh.'
                Sepertinya pendengaran dan memoriku sudah tidak berfungsi dengan baik lagi…

* Maaf kalau kurang ngehhhh.... *
Read More
      edit

Jumat, 03 Oktober 2014

Published 10/03/2014 03:59:00 PM by with 4 comments

FF - Misha


Misha

                Hari semakin gelap. Manusia dengan tubuh kecil ini masih duduk merenung di atas bekas potongan pohon di tengah hutan. Tanganku sedari tadi menyanggah dagu sambil menatap tumpukan kayu yang tadinya ku pikir jalan agar aku dengan misha bisa berbaikkan ternyata dia malah berkhianat.
***
                Apakah seharusnya aku memaafkannya? Tanya misha dalam hati.
                Dengan tubuh besarnya ia berjalan tertunduk meninggalkan hutan dan meninggalkan manusia yang di sayanginya itu disana.
                Mungkin dia sedang menangis sekarang… Seharusnya setelah aku menyuruhnya mengumpulkan kayu untuk membakar ikan, aku tidak meninggalkannya. Walau memang aku tahu besok ia akan pindah ke kota. Pikir Misha. Lalu menatap kea rah belakang. Hutan mulai gelap dan bunyi suara jangkrik semakin nyaring.
                Aku harus kembali! Misha pun berlari dengan tubuh besarnya, ia menerobos hutan yang mulai Nampak mengerikan.
                “Hiks…hiks…hiks…”.
                Misha  mendengar suara tangisan dari balik semak-semak. Benar saja, orang yang ditinggalkannya ada disana.
                “Misha?” Ucap manusia cantik itu.
                Masha maafkan aku! Kata misha dalam hati. Ia pun berlari, kea rah perempuan itu. Namun ia terpeleset.
                “ahhhkkk!” Misha menahan sakit luar biasa. Perutnya telah tertusuk tumpukan ranting pohon yang tajam. “Masha, maafkan aku…”
                “Misha…” Masah menangis, beruang kesayangannya telah meninggal.
               

                
Read More
      edit

Kamis, 21 Agustus 2014

Published 8/21/2014 10:17:00 PM by with 0 comment

MELTED (Edisi Revisi)

MELTED (Melebur)

                Tangan dinginku membeku, seakan mati rasa. Hangatnya kayu yang terbakar oleh api tidak bisa menghangatkan tanganku lagi. Kini aku hidup dengan ke dua tangan yang sudah tak berfungsi. Aku bagai ikan tanpa sirip, hanya akan terombang-ambing oleh derasnya gelombang laut di samudra.
                “Hei, Kau! Apa yang kau lakukan di situ?” Sebuah suara membangunkan tidurku.
                Aku membuka mata. Ternyata aku masih bisa melihat dunia, dunia yang penuh dengan cinta yang membeku. Jika tak kenal maka tak peduli, itu yang mereka lakukan padaku. Tapi baru kali ini ada yang membangunkan tidurku yang hanya berselimut koran.
                “Ya maaf… Ada apa ya?” Tanyaku dengan mata yang masih samar-samar memandang orang yang berbicara padaku.
                “Kau tidak tahu tempat apa ini?” Tanyanya.
                “Taman kota.”
                “Ya. Lantas kenapa kau tidur di sini? Sebaiknya kau segera pergi dari tempat ini!” Ucapnya tegas.
                Aku tersenyum. Ternyata bahkan seorang perempuan pun hatinya sudah beku. Tidak bisakah dia berbicara dengan nada pelan pada seseorang yang seperti ku ini?. Memang dunia sudah berubah, tidak seperti dulu yang penuh dengan keramahan.
                Berjalan tanpa alas kaki, dengan baju lusuh dan tas yang robek, membuatku selalu menjadi pusat perhatian. Bukan tuk dipuji-puji seperti artis tapi tuk di olok, di tertawakan bahkan cemooh oleh orang-orang. Sekali lagi itu mungkin karena rasa simpati mereka telah membeku.
                Aku melangkahkan kaki, angin musim semi membuat kaki ku dingin, namun bagaimana jika musim dingin datang nanti? Apakah aku masih bisa melangkahkan kaki tanpa alas kaki seperti hari ini?.
                “… Dia tidak malu ya… Kenapa gelandangan ada di sini? … Ihh bau, menjauh darinya anakku! … Iya bu dia bau! …” Ejekan seperti ini sudah menjadi sarapanku pagi hari, bahkan mungkin sudah menjadi santapanku setiap hari.
                “Harus kemana lagi aku? Kini aku benar-benar bagai ikan tanpa sirip!” Ucapku dalam hati, tanpa ku sadari air mataku meleleh.
                Aku menghentikan langkahku. Dengan air mata yang ku biarkan hilang dengan sendirinya. Aku menatap kerubunan orang sedang menonton pertunjukkan musisi jalanan. Mereka terlihat begitu gembira. Andai aku bisa menjadi bagian dari kebahagiaan itu, aku mungkin tak akan sesedih ini.
                Aku mendekati musisi jalanan itu.
                “Permisi dapatkah aku bernyanyi sebentar saja?” Tanyaku.
                “Baik … kau boleh” Ucapnya dengan wajah tersenyum. Baru kali ini aku melihat senyum tulus dari seseorang.
                “… Apa yang kau lakukan di sana? … sebaiknya kau minggir … Iya benar! Sebaiknya kau pergi … Pergi dari sana! Dasar gelandangan! …” Teriak orang-orang di depanku.
                Aku terpojok dengan ejekan mereka. Aku hanya ingin membuat suasana menjadi hangat. Tapi tampaknya suasana hangat yang ingin ku beri tidak disambut dengan baik, bahkan beberapa dari mereka langsung pergi saat melihat aku berada di depan.
                “Maaf aku merusak pertunjukanmu pak.” Ucapku pada musisi jalanan itu.
                “Tak apa, aku bisa mengerti. Bagaimana kalau kau ikut denganku saja. Kita bekerja sama. Bagaimana?”
                “Tapi tanganku… “ Ucapku sambil melihat kedua tanganku.
                “Kau tahu, banyak sekali orang di luar sana yang berjuang walau tubuh mereka tidak sempurna. Seharusnya kau memiliki semangat seperti mereka.”
                Aku menatapnya. Laki-laki yang kira-kira berumur empat puluh tahun ini mengatakan hal benar. Masih banyak orang yang sepertiku, bahkan lebih parah dariku tetapi mereka tidak pernah menganggap diri mereka kurang, mereka selalu optimis menjalani hidup.
                “Benar! Pak kau benar. Aku mau.” Ucapku dengan penuh semangat.
                Musisi jalanan itu langsung membereskan peralatan bernyanyinya. Aku tidak bisa membantunya banyak, mungkin hanya mendorong beberapa barang ke dekat mobil miliknya yang terparkir di sisi jalan.
                “Pak apa alasanmu bernyanyi?”
                “Hmm? Aku hanya ingin meleburkan hati setiap orang dengan laguku.”
                Tujuan yang mulia. Aku menatap pak tua itu yang sedang berusaha menyalakan mobil kol ini. “Coba saja setiap orang seperti dirimu pak, pasti dunia ini akan indah dan  menyenangkan…” Ucapku.
                Pak tua itu tersenyum padaku seraya menarik rem tangan mobil itu lalu memacu kendaraannya.
                Mobil sudah berjalan sekitar lima belas menit. Belum ada kata yang kembali terucap di antara kami. Aku masih sibuk mengaggumi kebaikkan pak tua ini. Dan dia mungkin sedang sibuk dengan mengemudi.
                “Tidak akan indah…” Ucap pak tua itu tiba-tiba.
                “M-maksudnya?”
                “Jika semua orang di dunia ini seperti ku, mungkin kebahagiaan hanya seperti kebiasaan yang membosankan…” Jelasnya.
                Aku diam. Benar juga perkataannya terkadang ke sempurnaan adalah hal yang membosankan, justru kekurangan yang membuat warna hidup semakin menarik. Penuh dengan tantangan.
                “Pak istri dan anakmu di mana?” Tanyaku setelah sampai di depan rumah ber-arsitektur eropa. Rumah itu terlihat mencolok diantara rumah-rumah lain yang bergaya korea.
                “Mereka sudah tidak ada…” Ucapnya sambil menurunkan barang-barangnya.
                Aku menatapnya. Mencoba untuk menerjemahkan ucapan pak tua itu. “mereka meninggal?”.
                “Ya meninggal, tapi tepatnya meninggalkan ku.”  Katanya. “Ayo masuk, kau mungkin sudah sangat lapar.”
               
                Burung-burung sudah bernyanyi. Mereka tersenyum melihat matahari yang masih bisa bersinar pagi ini. Tuhan sungguh baik!
                Aku membuka kedua mataku. Aku dapat melihat langit-langit rumah yang sudah kurang terawat. Sarang laba-laba di pojok-pojoknya, beberapa bagian terkelupas, dan ada uga yang bolong karena dimakan rayap. Nampaknya pak tua itu sudah jarang masuk ke kamar ini.
                “Kau mandi saja dulu…” Ucap pak tua itu.
                Aku mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi. Sampai di sana aku baru sadar, aku sudah tak mandi selama empat tahun. Selama ini aku mandi jika ada hujan, namun setelah itu aku akan sangat menderita karena aku akan sakit.
                Akhirnya aku sudah selesai mandi. Pak tua itu segera mengajakku makan dan setelah itu kami berdua berangkat ke tempat kemarin kita pertama bertemu.  Di sana sudah terlihat beberapa orang yang mungkin menunggu pak tua ini untuk tampil.
                Aku turun dari mobilnya. Aku lihat semua perangkat sudah hampir semua terpasang nampakanya orang-orang yagn tadi itu adalah orang yang membantu pak tua ini untuk memasang peralatannya.
                “Jangan takut, kau kini lebih baik. Mereka biasanya melihat orang dari luarnya, tetapi setelah mereka melihat dalamnya mereka akan segera luluh…” Ucap pak tua itu meyakinkanku.
                Aku mengangguk.
                Pertunjukkan pun dimulai, beberapa pejalan kaki ikut menonton kami. Pak tua itu bermain piano, sementara aku bernyanyi, bukan dengan suara merduku tapi dengan hatiku.
                … Di bawah langit biru kini ku bernyanyi
                Di temani rasa sepi yang sampai kini tak berhenti
                Tapi ku nikmati semua yang terjadi
                Walau kurasa pahit tetap kini ku jalani …
                Tepuk tangan bergemuruh, aku tersenyum kepada dunia. Setidaknya aku sudah bisa meleburkan hati sebagian kecil manusia di bumi ini.
***
               
               

                
Read More
      edit

Kamis, 15 Mei 2014

Published 5/15/2014 08:13:00 PM by with 5 comments

Prompt #49: Mata sama dengan hati

sumber 

Mata Sama dengan Hati

Konon katanya mata mencerminkan hati si pemiliknya... Aku berdiri di bawah sebuah pohon kering tak berpenghuni diantara pohon-pohon kering tak berpenghuni lainnya yang kebanyakan sudah berwarna hitam berbau hangus.
“Hahaha... Ternyata membakar hutan itu sangat mudah...” Terdengar suara datang dari kejauhan.
“Dasar manusia kejam!” Kutukku dalam hati.
Sementara itu ku lihat rombonganku. Mata mereka memerah perih karena asap dari pembakaran hutan. Mata mereka pun memancarkan kebencian yang tak bisa tertahankan lagi.
“Kalian ingat tugas kalian?” Tanyaku bersemangat.
“Ya kami ingat.”
“Baiklah kalau begitu, ayo serang mereka!”
Dengan kebencian yang membara kami yang seperti vampir yang haus akan darah menerkam mereka semua yang telah berani merusak hutan kami.
***
Sepuluh pasang mata yang telah lepas dari tubuhnya berjejer di depan kami. Mata-mata itu mencerminkan keserakahan.
“Coba saja kalian tidak merusak hutan.” Ucapku dalam hati. Aku tersenyum dengan mata yang penuh kebencian. Lalu kami semua berlari sebelum para pemburu hewan datang memburu kami.
Read More
      edit

Sabtu, 12 April 2014

Published 4/12/2014 08:12:00 PM by with 0 comment

#FF5 : Tolong Pergi

TOLONG PERGI


Tolong Pergi
                “Ahhh….” Dia meringis.Pipinya memerah.Air matanya jatuh.
                Tanganku bergetar “maaf…” suara kecil keluar dari bibirku , “Ahh…Aku minta,tolong pergi dari hidupku!” Lanjutku dengan suara yang bisa dibilang seperti teriakkan.
                Kakinya maju selangkah.
                Aku memundurkan selangkah.
                “Kenapa?Kenapa kamu meminta aku pergi?” Tanya dia. “Aku masih sangat menyukaimu.” Tangannya meraih pipiku.
                Air mataku jatuh.Seseorang yang  kucintai masih bertahan walau aku menyuruhnya pergi.
                “Ayolah…ikut bersamaku…” Ucap dia sambil meraih tangan kiriku.
                Aku mencoba bertahan walau tenaganya cukup kuat untuk menarik tubuhku ini.
                “Kenapa lagi?” Tanya dia.
                Aku menarik nafas dalam-dalam,mencoba untuk mengatakkan sesuatu yang jika ku katakan,aku tidak akan bertemu dirinya lagi,dan jika tidak ku katakan aku hanya akan menyusahkan orangtua ku saja. “Kamu sudah mati!” Bentakku keras.
                Tubuhnya perlahan demi perlahan menghilang dari pandanganku.

                “Pa anak kita siuman!” Suara itu terdengar ketika aku kembali membuka mata setelah tiga tahun bersamanya yang telah meninggal di dunia lain.     
Read More

      edit

Rabu, 05 Maret 2014

Published 3/05/2014 08:16:00 PM by with 4 comments

Prompt #41 - Ku tarik kata-kataku dari Tuhan

Ku tarik kata-kataku dari Tuhan

“PLAK!!” Pipi lembutnya memerah seketika.
Dia tersenyum.Tapi setetes air matanya jatuh. “Aku mencintaimu” Katanya sambil mengusap setetes air mata itu.
“Aku…aku…juga…MEMBENCIMU!” ucapku dengan tersenggal-senggal.Mulutku sangat sulit mengucapkan kata-kata manis yang waktu dulu pernah kuucapkan pada pacar pertamaku dulu.
Air matanya kembali jatuh. “Tak apa kamu membenciku,tapi yang pasti aku tetap akan mencintaimu!”.
“Maksudku…bukan itu,tapi sebenarnya aku sangat MEMBENCIMU!” Kataku,aku rasa di saat otak dengan hati bekerja dengan baik,tapi kenapa mulutku tidak? Apa yang kurasakan padanya tidak bisa terucap,malah akan sebaliknya.
“Tak apa kamu sangat membenciku.Kau tau kan? Benci dengan cinta itu beda tipis!Jadi aku anggap kalau kamu cinta sama aku” Suara yang sedikit terdengar seperti isakan itu keluar dari mulutnya.
“Maaf…bukan itu maksudku…aku sebenarnya…” aku menhela nafas “PLAK!” Pipinya kembali memerah untuk kedua kalinya saat ini,ke dua puluh kalinya untuk hari ini,dan entah keberapa kalinya sejak kita pacaran enam bulan lalu.
“Aku akan bertahan untukmu,tak peduli kau menampar ku hingga akhir hayat ku” dia kembali tersenyum.Hatiku ter iris mendengar kata-kata itu,apa yang sangat ingin ku ucapkan tapi malah kebalikannya yang terucap.Air mataku meleleh,ingin sekali aku menarik kata-kata yang kuucapkan pada Tuhan dulu disaat aku patah hati.“aku tidak akan pernah bisa mengatakan cinta!” kataku lantang waktu dulu.
“Jangan menangis…” dia mengapus lembut air mataku.
Wajahnya mendekat perlahan demi perlahan ke wajahku.
Sekarang wajah kami hanya tinggal dua centi meter lagi.Bibir merahnya mendekat,dan akhirnya bibir kami berpagutan mesra.
“Maafkan aku…karena menyakiti adalah caraku mencintaimu!” bisikku tepat di telinganya.
“Cinta” dia tiba-tiba melepaskan rangkulanku.

“Ya…cinta!” ucapku,dan selang waktu beberapa detik aku baru menyadari bahwa kata-kata ku dulu itu sudah boleh ku tarik dari Tuhan.


Dari fiksimini : Arya dwipangga - SADIS. Menyakiti, itu cara aku mencintaimu.


Read More
      edit

Rabu, 19 Februari 2014

Published 2/19/2014 06:49:00 PM by with 4 comments

Prompt #39 : Zombies meatballs

Zombies meatballs
                Tahun 2130.
                “huh…mereka semakin lama-semakin banyak…” ucapku sambil menyeka keringat yang bercucuran.
                “Betul zombi itu susah sekali ditangani…” balas ayahku,sambil memeriksa ketersediaan benda logam yang ada di tasnya.
                “Berapa lagi peluru yang ayah miliki?”
                “Sekitar seratus lima puluh lagi!” balas ayah sambil menghitung benda logam dalam tasnya itu.
                Keadaan hening sesaat.Perut ku terasa sangat lapar,sudah tiga hari aku tidak makan.Namun aku tidak mati,karena adrenalin ku melebihi kemampuan tubuhku,itu menyebabkan aku bisa bertahan tanpa makan selama tiga hari.
                “Ayah,kau lapar tidak?” tanyaku memegang perut.
                Ayah hanya diam.
Cr : http://mondayflashfiction.blogspot.com

                Aku terdiam,sambil melanjutkan jalan dengan senapan shotgun di tanganku.Ku lewati jalanan kota yang sudah amat sepi karena yang lain sudah diungsikan dari kota ini.
                “Tempat makan!” kataku setelah melihat tenda yang bertuliskan ‘Meatball’.
                Ayahku dengan cepat berlari seperti zombi yang sangat kelaparan.Dengan cepat ia memesan sepuluh porsi bakso kepada si penjual.Tapi aku tidak makan dulu aku masih ingin berjaga siapa tahu saat aku makan nanti ada zombi yang tiba-tiba menggigit leherku.
                Ayahku terlihat dengan lahap memakan makanan berbentuk bola itu yang biasanya berisikan daging sapi.Tapi,tunggu! Bukannya binatang tidak ada di kota ini?terus isi dari bakso itu apa?.

                Lima menit kemudian ayahku menjadi zombie,karena daging bakso itu adalah bagian tubuh zombi.


Banyak kata : 198 kata.
Read More
      edit

Selasa, 18 Februari 2014

Published 2/18/2014 08:58:00 PM by with 0 comment

#FF4 : Thousand miles


Thousand miles

“seribu mil adalah Impianku!!” ucap nenek mantap.
Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan.
“Masih kuat gak nek?” Tanya kakek.
“Enggak kek…nenek cuman mampu…sampe sini aja…kayaknya nenek…gak bisa lanjutin lagi…” ucap nenek tersenggal-senggal.
“Nek,gak apa-apa kan?” Tanya kakek.
Tiba-tiba saja nenek kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.Nafasnya terdengar setengah-setengah.
“nek…” panggil kakek dengan suara lirih.
“kek...tolong bawa nenek sampai ke jarak seribu mil dari rumah kita…” ucap nenek dengan suara yang amat berat.
“tapi bagaimana caranya? Tanya kakek bingung.
***

                “Seribu mil ini untukmu nek” ucap kakek sambil melirik ke bawah,mayat nenek tergeletak diatas aspal dengan darah berceceran menutupi sepanjang bagian jalan yang mereka lewati. NENEK TELAH DISERET!.
Read More

      edit

Rabu, 12 Februari 2014

Published 2/12/2014 10:36:00 PM by with 0 comment

#FF3 : Endofirn Faira


Endofirn faira

                “Ayo!” Ucap feira padaku.Hari ini kami berdua akan menuju pantai untuk berlibur sejenak meninggalkan aktivitas yang melelahkan serta membosankan yaitu,bekerja.
“Tunggu ada yang ketinggalan…” balasku,sambil masih mencari barang yang sangat penting bagi hidupku.
“Yeh..cepetan! Udah mulai siang nih!!” rengek dia.
Aku pun pasrah,entah apa yang akan terjadi padaku nanti aku akan menerimanya,yang penting saat terakhirku adalah bersamanya.
                Kami berdua menuju ke pantai menaiki mobil milikku.Aku mengendarainya dengan hati-hati,sambil terus berharap tidak terjadi sesuatu dengan kepalaku nanti.
“Ngomong-ngomong tadi kamu nyariin apa sih?” Tanya dia di sela-sela perjalanan.
“Oh enggak..enggak terlalu penting kok!” aku berbohong.
“Yang bener? Atau kalau perlu kita pulang dulu deh…untuk ngambil barang itu?”
“Enggak usah…lagian udah setengah perjalanan.Nanti malah kita sampainya kemalaman” ucapku menolak ucapannya.
Dia hanya diam.Lalu mulai mengacak-ngacak tas gendongnya,seperti mencari sesuatu.Tapi aku sudah mulai merasa kepalaku semakin lama-semakin berat dan terasa amat sakit.
NNGITTT!! Aku mengerem mobil dengan mendadak,membuat kepala feira terbentur.
“Kamu gak apa-apa?” tanyaku berada diantara sadar dan tak sadar.
Ia terdiam,lalu tersenyum.Di berikannya sebuah botol kecil.Ku teliti sesaat,walaupun pengelihatanku mulai kabur tapi ku coba baca tulisannya ‘ENDORFIN’.”Astaga?! ini obat penghilang rasa sakitku,dari mana ia mendapatkannya?” pikirku dalam hati.Tapi aku seakan mulai pasrah dan segera membuka pintu ke luar mobil untuk segera menenggak endorfin itu.
“Apa itu?” Tanya faira.Aku masih belum menenggak obat itu.
“endorfin” jawabku singkat.
“penghilang rasa sakit?” tanyanya.
“ya!”
“Jangan minum itu!!” tegasnya.Aku membalikkan badan menoleh ke arahnya.
Ia berjalan perlahan demi perlahan semakin lama semakin cepat dan akhirnya ia memelukku dan mencium lembut bibirku.Badanku bergetar,merasakan pusing kepala yang berat ini perlahan menghilang,seiring dengan ia melepaskan ciumannya dari bibirku.
Faira tersenyum “Itu endorfin milikku!” ucapnya.
“Endorfin ini?” tanyaku menunjukkan botol itu.
Dia menggeleng,dan sekali lagi mencium bibirku. “Ciumanku adalah endofirnmu!” ucapnya.

Benar!.Berkat ciumannya rasa sakit kepala karena kanker otak yang ku alami terasa ringan.Waktuku memang sudah tak lama lagi,tapi walau aku masih bisa hidup untuk beberapa tahun nanti,aku tahu itu berkat endofirn miliknya.
***

ff ini sya adaptasi dari salah satu scene film "Never ending story (film korea)".
Read More

      edit

Senin, 10 Februari 2014

Published 2/10/2014 10:51:00 PM by with 2 comments

Prompt #37: Bertukar Tubuh

Bertukar Tubuh

“Aduh…!” Suara seorang gadis manis yang terjatuh.Ya…dia pacarku.Rysia.
Aku terdiam sesaat.Pemandangan yang setiap hari aku lihat,begitu menyesakkan dada.Sakit sekali melihat ia terjatuh saat kemotrapi dilangsungkan.Aku merasa tak berguna baginya.Andai saja seorang peri mau bertukar tubuh denganku,aku akan menjadikan tubuhku menjadi kaki manis yang setiap hari menopang tubuhnya kemanapun ia pergi.
“Arrea? Baru datang?” teriaknya.Aku terkejut,namun aku menutupinya dengan membalas senyum lebar miliknya.
“Iya…” aku berlari menuju ke arahnya,ingin sekali aku membelai rambutnya itu.
“Kamu cape?” tanyaku pada dia yang sedang duduk istirahat,setelah melakukan kegiatan melelahkan itu.
“Tadi iya,sekarang enggak lagi!” ia tersenyum lebar.Aku hanya tersenyum setelah mengerti apa yang sebenarnya ia ucapkan.Ku belai lembut rambutnya,yang mungkin saja beberapa bulan atau tahun yang akan datang tidak dapat kubelai lagi.
                Tiap hari aku selalu menanyakan bagaimana perkembangan Rysia pada dokter,setiap hari itu pula aku mendengar bahwa tidak ada perkembangan melainkan penurunan fungsi tubuh Rysia.Ahh…ingin sekali aku memukuli dokter itu untuk tidak mengatakan hal yang sama setiap kali kutanya.
***
cr : http://mondayflashfiction.blogspot.com

Malam ini aneh sekali,terasa hangat padahal sekarang musim dingin.Sungguh aneh!.Ku tatap langit,bintang-bintang yang bersinar seperti biasa tidak terlihat,manambah keputusasaanku saja.

“hiks..hikss” sebuah suara tangis terdengar dari bawah bangku.
“Siapa di situ?” tanyaku sambil melirik kearah bawah bangku.
“aku..aku..” suara tergagap-gagap membalas namun yang kulihat hanya seberkas cahaya yang ada di bawah bangku.
Ku ulurkan tangan,untuk membantu seberkas cahaya itu keluar dari kolong bangku.Ku tatap dengan seksama seberkas cahaya itu.Ia bertubuh mungil,memiliki sayap kecil seperti kupu-kupu,dan kuping yang panjang ia seperti tampak manusia kerdil yang dikloningkan dengan kupu-kupu.sungguh aneh!.

“Heii siapa engkau?” tanyaku.
“ohh…aku adalah orang yang dikutuk menjadi peri…” jawabnya.Aku tidak mau bertanya bagaimana ia bisa menjadi peri yang aku ingin Tanya adalah “Apakah kau bisa menyembuhkan pacarku?” tanyaku.
“Maaf…aku tidak bisa lagi mengabulkan permintaan seseorang” jawabnya pelan.
“Apakah ada cara lain untuk menyembuhkan pacarku?”
“Ada…kau harus menjadi peri!” jawabnya.
“Bagaimana caranya?” aku hanya pasrah,mendengar jawabannya tadi.Bagiku ini adalah kesempatan yang terakhir untuk membahagiakan dia,Rysia.
“Kita bertukar tubuh…!” balasnya.Aku hanya diam.Mana mungkin aku menukar tubuh dengan seorang manusia yang dikutuk menjadi peri?.Lalu bagaimana nasib Rysia setelah tahu kalau aku bukan aku yang sebenarnya?.
“Baiklah…tapi satu permintaanku untukmu,sebelum kita bertukar tubuh.Kau harus menyayangi Rysia setulus hatimu dan jangan pernah tinggalkan dia!”
“Baiklah…aku akan mengabulkan permintaanmu itu!” balas dia mantap.
***
                Sudah tepat satu minggu setelah aku bertukar tubuh dengan peri itu.Aku berhasil menyembuhkan Rysia dan mengembalikan kehiddupannya yang dulu,penuh dengan senyuman.Peri yang memakai tubuhku itu pun menepati janjinya dengan selalu berada di samping Rysia.Sangat senang sekali ku rasa,namun satu yang kusesalkan yaitu “kenapa aku bertukar tubuh dengan peri yang suka menangis?”.


Read More
      edit

Minggu, 09 Februari 2014

Published 2/09/2014 07:29:00 PM by with 0 comment

Dhyo haw : Kecewa



Hanya tersenyum kini yang mungkin bisa aku lakukan
walau ku tahu hati sedikitpun tak bisa dibohongi

seakan teman yang kini kurasa untuk mengalihkan
semua yang kurasakan sebenarnya sangat menyakitkan


ho.. ho.. how yeey.. yee.. yeee


tak pernah ku duga ternyata kini kau begitu tega
tak perdulikan apa yang kini telah aku rasa

betapa salahnya kupercayakan semua padamu
tanpa sedikit ku tanamkan rasa curiga terhadapmu (wo.. ow)

Reff :
biarkan angin berhembus kencang dan tuangkan semua amarahku
berikan pertanda dan sampai kan padanya
kekecewaanku atas semua perlakuanmu


biarkan hujan mengalir deras dan kumohon jangan biarkan berhenti
berikan pertanda dan sampai kan padanya
luapkan semuanya buat dia merasakannya.. ku..
kecewa




***
Buat lo yang lagi kecewa sama seseorang :)
Read More
      edit